TEMPO.CO, Jambi:Perkebunan teh Kayu Aro dikaki Gunung Kerinci seluas 2.624 hektare itu adalah salah satu hamparan perkebunan teh terluas di dunia. Terletak di lereng Gunung Kerinci pada ketinggian 1.400 mdpl hingga 1.600 mdpl.Perkebunan teh yang terletak di Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi ini adalah salah satu perkebunan teh tua di Indonesia yang dibangun di zaman Kolonial Belanda. Adalah sebuah perusahaan Belanda, Namlodee Venotchaat Handle Verininging Amsterdam (NV HVA) yang menyulap kawasan Kayu Aro yang terletak di kaki Gunung Kerinci itu menjadi perkebunan teh pada 1925 hingga 1928.Penanaman teh dimulai pada 1929 dan pabrik teh mulai didirikan pada 1932. Pembukaan hutan Kerinci untuk kebun serta penanaman teh dilakukan ratusan kuli kontrak yang didatangkan dari Jawa.Teh yang dihasilkan adalah teh hitam. Perkebunateh ini dikelola PTP Nusantara VI.Didalam pabrik ini dapat disaksikan bagaiaman daun teh itu diolah. Daun segar yang baru dipetik akan melewati proses pelayuan di dalam bak-bak pelayuan yang dibawahnya dialiri udara panas. Setelah layu, dengan lori gantung daun-daun itu diangkut ke tempat penggilingan. Lalu digiling dengan mesin.Proses selanjutnya adalah fermentasi, hasil gilingan diangin-anginkan di ruangan yang bersuhu dingin. Terakhir dikeringkan atau istilahnya masuk ke penggorengan. Dengan mesin, bubuk teh akan dipisah berdasarkan mutu.Menurut Manager perkebunan teh Kayu Aro Ereska Yanto rata-rata setiap tahun kebun teh ini memproduksi teh hitam hampir 5 ton yang sebagian diekspor dan juga digunakan produsen minuman teh botol dan teh celup di Indonesia karena teh kayu aro unggul dalam cita rasa dan aroma.Jurnalis Video:Febrianti Editor: Denny SugihartoNarator: Annisa Luciana


  • Teh