TEMPO.CO, Jakarta: Penindasan etnis minoritas muslim Rohingya berlangsung bertahun-tahun. Pada 25 Agustus 2017 ratusan ribu etnis Rohingya kembali mengalami kekerasan. Dengan wajah ketakutan dan tak berdaya, mereka dipaksa meninggalkan rumah dan lari ke perbatasan menyeberang ke Bangladesh. Direktur Eksekutif Burma Human Rights Network, Kyaw Wyn mengungkapkan, diskriminasi luar biasa dialami etnis Rohingya mulai dari tidak memiliki kartu identitas nasional, tidak diperbolehkan beribadah, dilarang membangun rumah ibadah, tidak diizinkan berkunjung dengan bebas ke kota lain, bahkan tidak memperoleh fasilitas kesehatan yang memadai. Anak-anak Rohingya tidak bersekolah. Video: Maria Hasugian, AFPTVEditor: Ngarto Februana