Jumat, 21 September 2018

TEMPO.CO, Beijing – Masjid Niujie dikenal sebagai salah satu masjid tertua di Beijing, Cina. Berdiri di Distrik Xicheng, tempat beribadah umat muslim ini dibangun pada tahun 996 di zaman Dinasti Liao. Tempo beserta rombongan wartawan dan dosen dari Indonesia melawat ke Masjid Niujie untuk salat Jumat pada 27 Oktober 2017.

 

Masjid ini terletak di kawasan Niujie. Arti Niujie sendiri adalah “Jalan Sapi”. Pemandu Tempo, Louis, mengatakan daerah ini dulu dikenal sebagai tempat warga muslim yang berprofesi sebagai tukang jagal sapi. Di sini pula terdapat sapi-sapi ternak masyarakat.

 

Untuk masuk ke dalam, pengunjung harus membayar tiket tergantung apakah turis asing atau warga lokal. Waktu kunjungan pun menentukan tarif yang dikenakan. Tiketnya bisa mencapai 1 hingga 6 yuan atau Rp 2.000 hingga Rp 12.000.

 

Setelah masuk ke dalam kompleks masjid, pengunjung akan melewati alat pendeteksi logam. Lalu berjalan menuju lorong. Tidak ada ornamen-ornamen yang menandakan masjid ketika Anda berjaan di lorong. Tembok lorong menuju bangunan utama mengingatkan Tempo pada Masjid Menara Kudus di Jawa Tengah. Sekitar 200 meter kemudian terdapat pintu masuk menuju bangunan utama masjid. Sedangkan di sebelah kanan terdapat tempat wudhu. Jemaah berwudhu sambil duduk.

 

Jika sudah masuk ke bangunan utama masjid, baru terlihat dari luar ayat-ayat Alquran yang terukir dalam kaligrafi Arab. Tetapi arsitektur Cina tetap kental. Bangunan masjid ini didominasi warna merah. Atapnya pun seperti bangunan khas Cina lain dengan patung lima binatang di sudut atap.

 

Jika sudah masuk ke bangunan utama, Anda akan menemukan papan bertuliskan aksara Mandarin di atas pintu, Qingzhen Gujiao, yang berarti Islam agama yang sudah lama. Masuk ke ruang utama di bangunan utama, kaligrafi-kaligrafi Arab jenis kufah menghiasi dinding dengan warna dominasi merah. Adapula mimbar untuk khatib yang ukurannya tidak terlalu kecil.

 

Salat Jumat kali ini dimulai sekitar pukul 13.30 waktu setempat. Seperti di Indonesia, sebelum salat Jumat ada pengumuman yang disampaikan pengurus masjid. Bedanya dengan di Indonesia, pengumuman di Masjid Niujie lebih panjang dan mirip khutbah.

 

Setelah itu, para jemaah melaksanakan salat sunnah 4 rakaat. Baru kemudian khatib naik mimbar. Setelah dua kali khutbah, barulah salat Jumat digelar. Sekitar 500 jemaah salat Jumat di masjid ini. Mulai dari turis asing hingga warga lokal.

 

Luas Masjid Niujie ini mencapai 6.000 meter per segi. Bangunannya didirikan Nasruddin, anak seorang ulama dari Arab yang hijrah ke Cina untuk menyebarkan Islam.

 

Ketika bangsa Mongolia menguasai Beijing, mereka menghancurkan Masjid Niujie. Di era Dinasti Ming pada 1442, masjid ini kembali dibangun. Pada 1696, kompleks tempat ibadah umat muslim ini diperluas. Setelah itu, Masjid Niujie mengalami renovasi tiga kali yaitu pada 1955, 1979, dan 1996.

 

Husna, turis asal Malaysia, terkesan dengan keindahan Masjid Niujie. “Apalagi masjid ini sudah sangat tua,” kata dia. Husna kebetulan sedang backpacking bersama suaminya ke Cina. Dia tiba di Cina sejak 24 Oktober lalu.

 

Selain beribadah, Anda juga bisa membeli suvenir khas Masjid Niujie. Misalnya kaos, kalung, hingga sajadah.

 

 

 

Jurnalis Video: Kodrat

Editor/Narator: Ridian Eka Saputra