TEMPO.CO, Jakarta: Jelang Pemilihan Presiden Juli mendatang, partai politik saling merapat dan melirik figur sana-sini. Karena tak ada partai dengan perolehan suara menonjol, partai-partai pun saling bermanuver mencari kawan. Tujuannya, tentu saja supaya bisa menyorongkan calon presiden dan calon wakil presidennya sendiri. Namun, koalisi yang hanya bertujuan untuk mendapatkan tiket pencalonan presiden, amatlah rapuh. Tarik-ulur dilakukan dengan berdasar kompensasi atas elektabilitas calon presiden atau suara partai. Transaksi uang berkedok mahar atau cost sharing kampanye, pun turut mewarnai praktik koalisi dagang sapi ini.Lalu bagaimana peta final koalisi partai menjelang pendaftaran capres dan cawapres? Bagaimana pula proses di balik terhubungnya partai-partai dalam ikatan bernama koalisi?