Minggu, 27 Mei 2018

TEMPO.CO, Jakarta - Erwiana Sulistyaningsih, buruh migran Indonesia yang menjadi korban penyiksaan oleh majikannya Law Wan Tung, menang atas tuntutan ganti rugi di Pengadilan Hong Kong baru-baru ini. Hakim mengabulkan tuntutan Erwiana dengan diganti rugi 809.430 dollar Hong Kong.

Erwiana tenaga kerja perempuan asal Ngawi, Jawa Timur, disiksa majikannya di Hong Kong pada 2013-2014 silam. Menurut ketua tim dokter yang menangani Erwiana, dari hasil diagnosis diketahui Erwiana mengalami trauma kepala.

Setelah mengalami penyiksaan, Erwiana dipulangkan paksa oleh majikannya. Ia ditinggalkan begitu saja di Bandar Udara Chek Lap Kok, Hong Kong. Beruntung Erwiana bertemu dengan Yanti, seorang buruh migran asal Magetan yang juga hendak pulang. Yanti menemani Erwiana hingga mendarat di Bandara Adi Soemarmo Solo dan mengantarnya sampai rumah.

Pengadilan Distrik Wan Chai, Hong Kong, memvonis bekas majikan Erwiana, Law Wan Tung, 6 tahun penjara pada 27 Februari 2015. Law Wan terbukti melakukan kekerasan fisik dan intimidasi pidana serta tidak membayar gaji Erwiana.

Selain dipenjara, Tung juga harus membayar membayar denda sejumlah HK$ 15 ribu atau sekitar Rp 25 juta karena tak memberi perempuan asal Ngawi itu libur mingguan, libur nasional, dan asuransi. Gaji Erwiana selama 8 bulan sejumlah HK$ 28.800 juga harus segera dibayarkan.

Simak: Diduga Disekap Majikan, Keluarga TKW Mengadu ke Disnaker

Terakhir adalah kemenangan Erwiana Sulistyaningsih ketika hakim pengadilan Hong Kong mengabulkan tuntutan Erwiana dengan diganti rugi 809.430 dollar Hong Kong.

Bagaimana kisah penyiksaan terhadap dirinya saat itu? Apa arti kemenangan dirinya bagi perjuangan buruh migran Indonesia? Apa cita-citanya setelah lulus kuliah nanti? Berikut perbincangan Erwiana dengan tim redaksi Tempo di kantor Tempo, Palmerah Barat, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Jurnalis Video: Maria Fransisca
Editor: Ngarto Februana

Simak juga: Sepuluh Tahun TKW Asal Serang Ini Hilang di Malaysia