Senin, 22 Oktober 2018

TEMPO.CO, Jakarta - TIGA puluh menit menjelang hari berganti, ruang karaoke di lantai tiga Hotel Alexis, Ancol, Jakarta Utara, Rabu kedua Januari lalu, jauh dari sepi. Diterangi cahaya temaram dari tiga televisi berukuran besar di tembok, ruang seluas 3 x 6 meter itu riuh semarak dengan suara musik disko. Dua perempuan berambut panjang menggoyangkan kepala, tangan, pinggul, dan kaki mereka ke berbagai penjuru.

Dua perempuan itu menarik tangan dua laki-laki di pinggir sofa. Keempatnya berajojing sambil tertawa-tawa. Dua wanita itu pun melepas satu per satu lembaran kain di badan hingga tinggal bersisa kulit.

Hari itu belum genap tiga bulan setelah pemerintah DKI Jakarta mengirim surat pemberitahuan tak memperpanjang izin hotel dan griya pijat Alexis. Izin Alexis tak diperpanjang karena hotel itu diduga menjadi sarang prostitusi.

Baca juga: Perawat Cabul Tersangka, Minta Maaf ke Istri, tapi...

Nyatanya, prostitusi masih terjadi di Alexis meskipun tempat spa di lantai lima hingga tujuh, yang disebut-sebut sebagai tempat transaksi jasa pelayanan seksual, telah ditutup. Sejak awal, pengunjung bisa memilih lady companion atau LC yang berderet di ruangan tertutup gorden tipis di belakang resepsionis lantai tiga. Sekitar 40 perempuan duduk-duduk di sofa merah.

Dua perempuan itu rampung dengan tari telanjang yang digelar selama satu jam.

Pihak Hotel Alexis beberapa waktu lalu, saat izin Alexis tidak diperpanjang, Lina Novita dari Legal and Corporate Affairs Group Alexis menyangkal ada praktik prostitusi di Hotel Alexis. kepada media mengatakan bahwa tidak ada praktik prostitusi.

Ihwal LC yang berperan ganda sebagai penjaja jasa seks, kepada Tempo Lina Novita membantah. Menurut Lina, Alexis menyediakan LC sesuai dengan fungsi memandu tamu yang ingin berkaraoke.

Baca juga: Iseng Remas Payudara, Pria Ini Menangis Diciduk Polisi

Sementara itu, di Classic Hotel, Jalan Samanhudi, No. 43-45, Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat, juga terdapat tempat prostitusi. Setidaknya ada tiga arena besar yang bisa dimasuki pengunjung untuk memilih wanita penghibur. Salah satunya di lantai tiga yang disebut sebagai Terminal 2. Begitu pengunjung masuk, lebih dari 50 perempuan dengan pakaian seksi duduk berderet di sofa-sofa yang memanjang di pinggir ruangan. Tak ada perbedaan tarif di Classic. Jasa pelayanan seks semua perempuan bertarif Rp 365 ribu.

Tempo mengajak berbicara lima pekerja seks di Classic. Empat di antaranya mengaku awalnya bekerja tanpa paksaan di hotel itu. Belakangan, bos mereka--semacam agen yang mempekerjakan perempuan penghibur--menjerat para perempuan itu dengan pinjaman uang yang jumlahnya terus berlipat.

Ada pula perempuan penghibur asal Jawa Barat yang mengaku tertipu karena awalnya diiming-imingi bekerja sebagai pemandu karaoke.

Simak: Menyamar ke Hotel, Polisi Bongkar Prostitusi Wanita Belia

Bisnis hiburan malam bagai gula yang selalu dikerubuti pelanggan. Itu sebabnya di berbagai penjuru Ibu Kota tersedia tempat yang menawarkan one stop entertainment. 

Video/Reporter: Tim Investigasi Majalah TEMPO
Pilot Drone: Subekti
Stock Footages: Maria Fransisca
Editor: Ngarto Februana